Sebelum ujian, seorang dosen mata kuliah metabolisme meminta kami mahasiswanya menuliskan alasan mengapa kami sayang pada hati. Hati yang dimaksud adalah organ tubuh. Namun, hati juga sering diartikan sebagai sesuatu yang tak nampak yang dimiliki manusia. Lalai akan tugas yang tak formal itu, ketika belajar untuk ujian baru ku baca 'note' dicatatan ku. Hingga ku hentikan belajar ku sejenak dan mengerjakan tugas sambil bertanya dalam hati, "mengapa aku sayang hati?"
I love My Heart (read: Liver)
Tanpa mu,
mungkin aku seperti batu
Keras tanpa rasa
Tanpa mu, mungkin aku seperti batu
Diam tanpa suara
Tanpa mu, mungkin aku seperti batu
Kaku tanpa senyum, tanpa sedih, tanpa luka
Tanpa bahagia
Keras tanpa rasa
Tanpa mu, mungkin aku seperti batu
Diam tanpa suara
Tanpa mu, mungkin aku seperti batu
Kaku tanpa senyum, tanpa sedih, tanpa luka
Tanpa bahagia
Tanpa
mu, percumalah semua..
Karbohidrat, protein, lemak, nukleotida. .
Ah, dia hanya lewat sejenak. .
Tanpa mu, tanpa mu tak ada daya ku tersenyum
mengucap salam, berpeluk dengan saudaraku
bahkan sekadar aku mengucapkan
“I heart you. . duhai para pencinta Islam”
karena glukosa yang menyertaimu, karena kau tak ada
Karbohidrat, protein, lemak, nukleotida. .
Ah, dia hanya lewat sejenak. .
Tanpa mu, tanpa mu tak ada daya ku tersenyum
mengucap salam, berpeluk dengan saudaraku
bahkan sekadar aku mengucapkan
“I heart you. . duhai para pencinta Islam”
karena glukosa yang menyertaimu, karena kau tak ada
Bila kau
sakit.. sungguh.. semua sulit. .
sesulit menatap matahari ditengah siang
Bila kau tak berdaya, apalah aku?
Kau tak bisa mengubah amonia menjadi urea
tak bisa. .
Laju endap darah pun kacau.. ah tak lagi sama
tak lagi normal
Bila kau sakit, semua penjahat berhasil menguasaiku
mereka menembus dan membuatku lemah. .
Toksin itu berhasil melemahkan ku. .
Tapi kau tahu, apa yang ku takutkan saat kau sakit?
Saat aku tak lagi mampu berdiri, ruku, dan bersujud
kepada Pencipta ku, Pencipta mu. .
sungguh, jiwaku ada di genggaman-Nya. .
Do’a ku. . Illah ku mengidzinkan mu menemaniku
tegar dan sehat bersamaku. .
aku menyayangi mu duhai hati ku. .
Penuh syukur. . Terima kasih Ya Rabb memberiku
segumpal daging yang tak pernah ku minta
karena Engkau menyayangi ku (Aamiin)
sesulit menatap matahari ditengah siang
Bila kau tak berdaya, apalah aku?
Kau tak bisa mengubah amonia menjadi urea
tak bisa. .
Laju endap darah pun kacau.. ah tak lagi sama
tak lagi normal
Bila kau sakit, semua penjahat berhasil menguasaiku
mereka menembus dan membuatku lemah. .
Toksin itu berhasil melemahkan ku. .
Tapi kau tahu, apa yang ku takutkan saat kau sakit?
Saat aku tak lagi mampu berdiri, ruku, dan bersujud
kepada Pencipta ku, Pencipta mu. .
sungguh, jiwaku ada di genggaman-Nya. .
Do’a ku. . Illah ku mengidzinkan mu menemaniku
tegar dan sehat bersamaku. .
aku menyayangi mu duhai hati ku. .
Penuh syukur. . Terima kasih Ya Rabb memberiku
segumpal daging yang tak pernah ku minta
karena Engkau menyayangi ku (Aamiin)
dari hati saja kita
semestinya bersyukur, belum lagi ginjal, jantung, otak, paru-paru, dan semua
yang membentuk kita. Terlebih dari permintaan yang kita panjatkan
Bersyukurlah.. “Fa bi ayya alaa irabbikumaa tukadzdzibaan?”
Bersyukurlah.. “Fa bi ayya alaa irabbikumaa tukadzdzibaan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar