Kenapa Saya Harus Menulis?
Karena
saya senang membaca. Karena saya senang menyusuri tiap katanya hingga berbentuk
pola lalu gambar di kepala. Bagaimana saya bisa membayangkan puluhan kapal laut
menaiki gunung, ditarik pasukan terbaik. Dipimpin pejuang tangguh pada
zamannya. Bagaimana teguhnya Thariq bin Ziad. Ia bakar kapal perang untuk menghapus
satu dari dua pilihan. Saya terlalu jauh dari zaman itu. Secara nyata saya tak
pernah melihat rupa kapal-kapal itu. Tak ku dengar suara panglima Thariq bin
Ziad. Tapi saya tahu, saya tahu perjuangan mereka dengan membaca. Lihatlah
betapa mengagumkan para penulis itu. Mereka mampu membawa seseorang pada masa yang
tak tersentuhnya
Saya
yang baru bisa melintasi Pulau Jawa dapat merasakan hiruk pikuk perang.
Perjuangan abadi, mati syahid atau tenggelam sia-sia. Karena saya membaca dan
dikisahkan. Saya tidak membacanya dari tulisan pasukan jennisary atau salah
satu anak buah Thariq bin Ziad. Jauh. Sangat terlampau jauh. Saya hidup pada
zaman layar sentuh. Lalu bagaimana saya bisa menemukan kata-kata dan
kalimat-kalimat menyejarah itu. Karena ada mereka yang senantiasa membagikan
waktu, pikiran, dan perasaan mereka. Mereka tulis dengan penuh kejujuran dan
harapan. Mereka bagi apa yang mereka tahu dan rasakan. Tak ingin
peristiwa-peristiwa hebat itu terbagi hanya oleh yang merasakannya nyata. Karena
pada setiap zaman ada yang rela berbagi dan menuliskannya hingga sampailah
tulisan-tulisan itu kepada saya.
Tak
semua tulisan itu berupa kisah heroik. Banyak kisah-kisah yang timbul dari hati
yang hanya hati saja yang tahu. Dan lembaran kertas serta para pembacanya. Berupa
pendapat-pendapat sang penulis mengenai banyak hal. Membaca pemikiran-pemikiran
penulis ini sangatlah menyenangkan. Setiap orang memiliki kisah hidup yang tak
sama. Bagaimana kehidupannya itu membuat berbeda pula cara pandangnya. Saat
kita membaca tulisan serupa ini seolah diberi nasihat yang tak bisa kita jeda
kata-katanya. Atau berupa pengalaman penulis ketika mengalamami dan merasakan
sesuatu. Seperti pengalaman naik gunung. Ketika dingin menusuk kulit atau
dimana lelah terobati saat menatap lukisan alam dari puncak. Kurasa pendaki
pemula memiliki niatan menaiki gunung sebagian karena tulisan semacam ini. Tak puas
membayangkannya saja saat mata menulusuri tiap kata-kata dalam buku.
Kebanyakan
kisah pengalaman merasakan sesuatu adalah merasakan jatuh cinta. Hey, siapa
yang tak pernah jatuh cinta? Jika ada ada, mungkin belum. Merasakan cinta
adalah sebuah anugerah yang sulit dibicarakan, jarang rasanya seseorang
berpidato mengenai perasaan cintanya. Setidaknya ia luapkan dalam bentuk lagu
atau puisi. Lirik lagu dan puisi-puisi cinta pun mulanya ditulis. Mungkin
dilihat berkali-kali, sudah cukupkah kata-kata itu mewakili perasaannya. Dihapus
sebagian dan diganti hingga menjadi lebih indah. Saat orang lain membacanya, ia
akan merasa memiliki kawan baru. Berkata dalam hati “Seperti ini pula aku
merasakannya.” Mungkin adalah sifat manusia yang tak bisa hidup sendiri. Selalu
ingin berbagi. Berharap apa yang setelahnya adalah hal yang lebih baik.
Lebih
dari sekadar berbagi rasa dan pengalaman ada hal penting dari membaca dan
menulis. Begitu banyak penduduk bumi maka begitu banyak pula yang terjadi. Dari
setiap kejadian-kejadian ini tak semua berlangsung dengan baik dan yang menyadarinya
juga hanya sebagian saja. Mungkin bukan karena tak mau melakukan sesuatu
sebagaimana mestinya. Hanya tidak tahu. Maka penulis berusaha melakukannya.
Memberitahukan pada mereka yang tak tahu. Berharap dengan tulisan-tulisan sang
penulis menjadi jalan terciptanya keadaan yang lebih baik lagi.
Sedang
bagi sebagian lain ada rasa tanya yang begitu banyak. Apakah yang dilakukan dan
dirasakannya itu benar? Atau bertanya-tanya bagaimana ia harus melakukan ini dan
itu? juga bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Maka mereka akan
mencarinya, bertanya langsung misalnya. Tapi sudah saya sebutkan bahwa buku
adalah teman yang baik. Maka buku menjadi sarana pencarian jawaban.
Bagi
mereka yang sadar, mereka akan mencari tulisan-tulisan tentang hal yang mereka
tak tahu dan sangat ingin diketahui. Sadar betapa luas dan banyak penghuni bumi
sehingga ia akan mencari tahu apa saja yang sudah dan sedang terjadi. Setelahnya
ia akan berupaya menjadi jawaban atas segala kegelisan yang ditorehkan penulis.
Menurut
saya tulisan adalah sebuah tali yang menghubungkan setiap penghuni bumi. Sedang
membaca tulisan adalah yang mempererat ikatan itu. Ketika membaca itu adalah
hal yang sangat penting maka menulis lebih dari itu, bukan?
Sebentar,
saya rasa ada buku yang menjelaskan tentang pentingnya menulis. Mari saya
tunjukkan,
Tertulis
dari buku yang saya baca,
“Tulis dan sebarkanlah ilmumu di anatara
saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kitab-kitabmu. Kelak akan
datang suatu masa ketika terjadi banyak kekacauan dan orang-orang tak lagi
mempunyai sahabat yang akan menolong dan melindungi selain buku-buku.” (Ja’far
Ash Shadiq)
Saya baru menyadari
ketika menulis ini, sepertinya apa yang sudah saya tulis dan pikirkan ini tak
luput dari peran tulisan-tulisan yang pernah saya baca.
Kenapa
Saya Harus Menulis?
Berawal
dari keinginan berbagi apa yang ada dilubuk hati atau pengalaman menjadi hal
lain yang lebih penting rasanya. Banyak hal yang harus dibagi, banyak hal yang
perlu diketahui orang banyak. Orang-orang yang mungkin belum sadar akan
sesuatu. Sedangkan kita lebih dahulu mengetahui dan menyadarinya. Berharap
dengan menulis kita tak menjadi orang yang hanya diam saja. Orang baik yang diam
saja tanpa berbuat apa-apa bahkan untuk sekadar
menulis.
Ketika
diminta menuliskan alasan mengapa harus menulis, ternyata jawabannya ada
setelah saya menulis. Mungkin benar apa yang tertulis di buku “Prophetic
Learning” bahwa menulis menyiapkan kita untuk membaca kondisi di sekitar kita
secara cermat dan krtitis.
Oya,
mungkin bisa di baca buku “Prophetic Learning” karya Dwi Budiyanto. Halaman 186
menuturkan tentang penting dan manfaat menulis. Saya baru saja membacanya lagi saat
mengakhiri tulisan ini. Bermula ingin mengutip perkataan seorang terkenal.
Entah
apakah saya telah mencapai tahapan cermat dan kritis. Terpenting saya memiliki
alasan yang lebih untuk berani dan tetap menulis. Menjadi seseorang yang berupaya untuk kehidupan yang lebih baik
dengan tulisan.
Semoga
Allah senantiasa memberikan kebenaran dan kebaikan pada apa yang saya tulis.
Aamiin..