Kamis, 14 Januari 2016

Di ruang itu (2)


Di ruang itu,

"Aku bingung.."
"Rasanya aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan di sini."
"Sama sekali tak terbayang akan di sini."
"Terlebih kamu, kamu jelas paham apa yang harus di lakukan. Dari A sampai Z"
"Aku bingung.."
"Kamu bicara tentang banyak hal dengan cepat yang aku sendiri belum mengerti."
"Aku harus bilang apa?"

Begitu ucap Qif perlahan

Jadi semua sikapnya ini juga karena aku..
*maaf*

"Kalau aku salah tolong beritahu aku. Kalau bingung tanyakan. Agar aku segera perbaiki."

Tak ada pembahasan lain. Di ruang itu seakan aku berakhir menjadi terdakwa.

Di ruang itu, Qif seharusnya belum selesai bicara.

Maaf Qif.

Tapi, tak selesai sampai di ruang itu..

Di ruang itu


Di ruang itu,
Hanya ada aku, Rei, dan Qif..

Sudah berhari-hari aku menjelaskan ini dan itu pada Rei. Sebal dan kesal ku terhadap Qif. Sikap diamnya. Wajah malas tak pedulinya. Rasanya aku tak ingin lagi begini. Sampai kapan? Itulah akhir dari semua pertanyaanku.

Sampai kapan?

Hingga kuputuskan mengatakan semuanya pada Qif. Sudah kutata pertanyaan-pertanyaan. Sudah kupasang raut wajahku.
Pintaku pada Rei untuk bersedia menemaniku bertemu dengan Qif.

Qif bersedia bertemu,
Aku duduk di bangku depan sambil menatap papan putih. Qif seingatku di posisi yang sama hanya berbeda baris. Dan Rei menatap keluar jendela.

Bagaimana aku mengawalinya, aku lupa..
Kututurkan semua yang membuat hatiku tak nyaman. Semua yang membuat gerakku tak leluasa.

Banyak sekali.. Tapi singkat. Cepat sekali aku berkata ini dan itu sampai aku terdiam memberinya waktu bicara menjawab semua tanya.

Qif, dia bicara pelan-pelan..
Kurasakan usahanya untuk menjawab pertanyaanku..

Kenyataannya yang kudengar membuatku bersalah. Dia bilang aku begini aku begitu. Keadaan yang ada begini dan begitu.

Aku diam..
Rei masih menatap langit dari jendela..