Selasa, 15 Desember 2015

Teman

Teman

Aku tak menyangka hingga akhirnya kita dipertemukan kembali..
Kembali untuk berbagi sedikit bagian dari waktu-waktu kita..
Memikirkan kebaikan-kebaikan yang akan dikerahkan dan wujud nyatakan..
Tapi aku ragu semenjak awal,
ragu, mungkinkah keselarasan akan hadir?
Aku bilang, mungkin begitu banyak beda.
Baiknya kita jauh saja, agar semua tak jadi susah dengan hal-hal tak penting.
Cukup baik hanya dengan bertanya kabar.

Tapi, bukan itu tujuannya.
Terlalu remeh mementingkan kenyamanan diri.
Namun memang kalau begini akan menjadi sulit.
Sulit jika hanya dipikirkan susahnya.
Sulit jika hanya mengingat masa lalu.

Aku berpikir lagi.

Oh- jauhkan aku dari prasangka.
Prasangka-prasangka yang hanya akan melemahkan perjuangan.

Teman. Sudah kubuang semua dugaan kosong itu.
Aku hanya perlu menatap tujuan. Dan tak lupa mengingat kau juga ada di jalan yang sama.
Teman, sebaik dan seburuk apa kau menilaiku, biar Allah yang akan menjaga hatimu.

Teman, lagi-lagi ini hanya sebatas kata yang tak sampai padamu.. Tapi kau tahu teman,
Maha Pencipta mampu membaca ini.
Jauh sebelum tertata kata.

Semoga Allah memudahkan urusan kita.



Sabtu, 21 November 2015

MindMaping: Dare to Write!



Bismillaah..
Semoga bisa tetep istiqomah mengerjakan tugas KMO :)  Alhamdulillah selesai..
mohon kritik dan saran :)
Kenapa pilih "Membaca" karena ini yang paling deket sama apa yang ada dipikiran :D

ini Outline nya~ 


BUKAN SEKADAR MEMBACA

Bacalah!
Wahyu Pertama
Arti Membaca

Dunia Membaca
Ejaan Bangsa-bangsa
Huruf-huruf Bersejarah

Skill Membaca
Cerdas Membaca
Membaca Setiap Waktu
Prioritas dalam Membaca

The Power of Reading
Mereka Mulai dengan Membaca
Kisah-kisah tertulis
Mari membaca

Sabtu, 14 November 2015

Kenapa Saya Harus Menulis?

Kenapa Saya Harus Menulis?

Karena saya senang membaca. Karena saya senang menyusuri tiap katanya hingga berbentuk pola lalu gambar di kepala. Bagaimana saya bisa membayangkan puluhan kapal laut menaiki gunung, ditarik pasukan terbaik. Dipimpin pejuang tangguh pada zamannya. Bagaimana teguhnya Thariq bin Ziad. Ia bakar kapal perang untuk menghapus satu dari dua pilihan. Saya terlalu jauh dari zaman itu. Secara nyata saya tak pernah melihat rupa kapal-kapal itu. Tak ku dengar suara panglima Thariq bin Ziad. Tapi saya tahu, saya tahu perjuangan mereka dengan membaca. Lihatlah betapa mengagumkan para penulis itu. Mereka mampu membawa seseorang pada masa yang tak tersentuhnya
Saya yang baru bisa melintasi Pulau Jawa dapat merasakan hiruk pikuk perang. Perjuangan abadi, mati syahid atau tenggelam sia-sia. Karena saya membaca dan dikisahkan. Saya tidak membacanya dari tulisan pasukan jennisary atau salah satu anak buah Thariq bin Ziad. Jauh. Sangat terlampau jauh. Saya hidup pada zaman layar sentuh. Lalu bagaimana saya bisa menemukan kata-kata dan kalimat-kalimat menyejarah itu. Karena ada mereka yang senantiasa membagikan waktu, pikiran, dan perasaan mereka. Mereka tulis dengan penuh kejujuran dan harapan. Mereka bagi apa yang mereka tahu dan rasakan. Tak ingin peristiwa-peristiwa hebat itu terbagi hanya oleh yang merasakannya nyata. Karena pada setiap zaman ada yang rela berbagi dan menuliskannya hingga sampailah tulisan-tulisan itu kepada saya.
Tak semua tulisan itu berupa kisah heroik. Banyak kisah-kisah yang timbul dari hati yang hanya hati saja yang tahu. Dan lembaran kertas serta para pembacanya. Berupa pendapat-pendapat sang penulis mengenai banyak hal. Membaca pemikiran-pemikiran penulis ini sangatlah menyenangkan. Setiap orang memiliki kisah hidup yang tak sama. Bagaimana kehidupannya itu membuat berbeda pula cara pandangnya. Saat kita membaca tulisan serupa ini seolah diberi nasihat yang tak bisa kita jeda kata-katanya. Atau berupa pengalaman penulis ketika mengalamami dan merasakan sesuatu. Seperti pengalaman naik gunung. Ketika dingin menusuk kulit atau dimana lelah terobati saat menatap lukisan alam dari puncak. Kurasa pendaki pemula memiliki niatan menaiki gunung sebagian karena tulisan semacam ini. Tak puas membayangkannya saja saat mata menulusuri tiap kata-kata dalam buku.
Kebanyakan kisah pengalaman merasakan sesuatu adalah merasakan jatuh cinta. Hey, siapa yang tak pernah jatuh cinta? Jika ada ada, mungkin belum. Merasakan cinta adalah sebuah anugerah yang sulit dibicarakan, jarang rasanya seseorang berpidato mengenai perasaan cintanya. Setidaknya ia luapkan dalam bentuk lagu atau puisi. Lirik lagu dan puisi-puisi cinta pun mulanya ditulis. Mungkin dilihat berkali-kali, sudah cukupkah kata-kata itu mewakili perasaannya. Dihapus sebagian dan diganti hingga menjadi lebih indah. Saat orang lain membacanya, ia akan merasa memiliki kawan baru. Berkata dalam hati “Seperti ini pula aku merasakannya.” Mungkin adalah sifat manusia yang tak bisa hidup sendiri. Selalu ingin berbagi. Berharap apa yang setelahnya adalah hal yang lebih baik.
Lebih dari sekadar berbagi rasa dan pengalaman ada hal penting dari membaca dan menulis. Begitu banyak penduduk bumi maka begitu banyak pula yang terjadi. Dari setiap kejadian-kejadian ini tak semua berlangsung dengan baik dan yang menyadarinya juga hanya sebagian saja. Mungkin bukan karena tak mau melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Hanya tidak tahu. Maka penulis berusaha melakukannya. Memberitahukan pada mereka yang tak tahu. Berharap dengan tulisan-tulisan sang penulis menjadi jalan terciptanya keadaan yang lebih baik lagi.

Sedang bagi sebagian lain ada rasa tanya yang begitu banyak. Apakah yang dilakukan dan dirasakannya itu benar? Atau bertanya-tanya bagaimana ia harus melakukan ini dan itu? juga bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Maka mereka akan mencarinya, bertanya langsung misalnya. Tapi sudah saya sebutkan bahwa buku adalah teman yang baik. Maka buku menjadi sarana pencarian jawaban.
Bagi mereka yang sadar, mereka akan mencari tulisan-tulisan tentang hal yang mereka tak tahu dan sangat ingin diketahui. Sadar betapa luas dan banyak penghuni bumi sehingga ia akan mencari tahu apa saja yang sudah dan sedang terjadi. Setelahnya ia akan berupaya menjadi jawaban atas segala kegelisan yang ditorehkan penulis.
Menurut saya tulisan adalah sebuah tali yang menghubungkan setiap penghuni bumi. Sedang membaca tulisan adalah yang mempererat ikatan itu. Ketika membaca itu adalah hal yang sangat penting maka menulis lebih dari itu, bukan?
Sebentar, saya rasa ada buku yang menjelaskan tentang pentingnya menulis. Mari saya tunjukkan,
Tertulis dari buku yang saya baca,
Tulis dan sebarkanlah ilmumu di anatara saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kitab-kitabmu. Kelak akan datang suatu masa ketika terjadi banyak kekacauan dan orang-orang tak lagi mempunyai sahabat yang akan menolong dan melindungi selain buku-buku.” (Ja’far Ash Shadiq)
Saya baru menyadari ketika menulis ini, sepertinya apa yang sudah saya tulis dan pikirkan ini tak luput dari peran tulisan-tulisan yang pernah saya baca.
Kenapa Saya Harus Menulis?
Berawal dari keinginan berbagi apa yang ada dilubuk hati atau pengalaman menjadi hal lain yang lebih penting rasanya. Banyak hal yang harus dibagi, banyak hal yang perlu diketahui orang banyak. Orang-orang yang mungkin belum sadar akan sesuatu. Sedangkan kita lebih dahulu mengetahui dan menyadarinya. Berharap dengan menulis kita tak menjadi orang yang hanya diam saja. Orang baik yang diam saja tanpa berbuat apa-apa  bahkan untuk sekadar menulis.
Ketika diminta menuliskan alasan mengapa harus menulis, ternyata jawabannya ada setelah saya menulis. Mungkin benar apa yang tertulis di buku “Prophetic Learning” bahwa menulis menyiapkan kita untuk membaca kondisi di sekitar kita secara cermat dan krtitis.
Oya, mungkin bisa di baca buku “Prophetic Learning” karya Dwi Budiyanto. Halaman 186 menuturkan tentang penting dan manfaat menulis. Saya baru saja membacanya lagi saat mengakhiri tulisan ini. Bermula ingin mengutip perkataan seorang terkenal.
Entah apakah saya telah mencapai tahapan cermat dan kritis. Terpenting saya memiliki alasan yang lebih untuk berani dan tetap menulis. Menjadi seseorang yang  berupaya untuk kehidupan yang lebih baik dengan tulisan.
Semoga Allah senantiasa memberikan kebenaran dan kebaikan pada apa yang saya tulis. Aamiin..


Selasa, 13 Oktober 2015

Kanda Kepada Dinda



Kanda kepada Dinda

Usah kau lama menangis dinda..
tujuan hidup mu dan Kanda bukanlah cinta..
tetapi beribadah kepada Pencipta Kanda dan engkau Dinda,
juga cinta..
Kita hidup bukan untuk cinta,
namun hidup dengan cinta.

Jika cintamu hilang,
berlarilah..
kejarlah cinta yang lain.
percayalah kelak engkau akan temukan lagi.

Jika hidup untuk cinta yang seperti ini
mungkin,
tak banyak lagi orang hidup di dunia
Dinda

Senin, 12 Oktober 2015

Pohon



Pohon itu mengerti.
Aku menatap tanpa arah, tanpa jelas apa yang ku cermati.
Pohon itu mengerti aku tengah sendiri.
Ia melambai, namun aku tak sadar.
tak putus asanya. Lebih keras ia melambai, hingga batangnya yang tegak ikut meliak-liuk.
Ia berhasil membuatku tersadar.
Lambaiannya menghantarkan angin sejuk lalu melintasi wajahku dan pergi. Pergi dengan kabar bahwa aku tengah sendiri.

Minggu, 17 Mei 2015

MIMPI

Seseorang mengatakan, nantinya kita akan bertemu orang yang berjalan sama cepatnya juga sama pelannya dengan kita. Dengan semua jenis orang di dunia ini apakah bisa begitu serasinya? Belum aku mengetahuinya sampai aku merasakannya sendiri, pikir ku. Hingga suatu hari aku bermimpi. Mimpi ini seperti cerita tanpa awal yang jelas. seperti bagian film yang tiba-tiba tanpa ada prolog. Aku tengah berlari kencang. Berlari melewati orang-orang yang ramai. Jalannya tak sepi, terkadang banyak barang di sepanjang jalan hingga kami harus melompat dan secepat mungkin menghindar dari sesuatu yang menghalangi langkah kami. Aku berlari dengan tanganku yang di pegang erat. Erat sekali. Dia berlari kencang sambil memegang tangan hingga seperti tak bisa terlepas. Aku hanya bisa melihat dia yang menatap jelas ke depan dan sesekali menengok ke belakang. Ke arah ku, memastikan semua baik-baik saja. Aku merasakan saat itu aku juga harus berlari dan jangan berhenti. Sesaat aku berpikir untuk mengurangi kecepatan atas keinginanku sendiri. Namun saat itu sama sekali aku tidak merasa lelah. Jatuh. Ya, jika aku bermaksud mengurangi kecepatan tiba-tiba aku akan terjatuh. Hingga aku memutuskan untuk tetap berlari. Mimpi selesai. Selang beberapa hari aku bermimpi lagi. Aku bermimpi berada di ruang gelap tanpa cahaya. Aku berjalan pelan sambil menggambarkan keadaan sekitar. Tangan ku meraba udara di sekitar ku. Berharap tak ada yang menghalangi jalanku. Tapi meskipun aku tak bisa melihat apa-apa aku bisa merasakan seseorang yang tengah menemani ku. Memperhatikan ku. memastikan aku baik-baik saja. Ia membiarkan aku memilih langkah ku sendiri tapi dia tak membiarkan aku terjatuh. Tetap mengawasiku. Aku terus melangkah dengan sambil terus memutuskan langkah yang aku ayunkan dan merasakan seseorang itu. Mimpi selesai. Apa maksud kedua mimpi ini? Aku mencoba memahaminya. Aku dikedua mimpi ku dalam kondisi yang berbeda namun serupa. Sama-sama melangkah mencapai suatu arah tapi bagaimana aku sampai itu berbeda cara. 

Minggu, 15 Maret 2015

Pertanian Masa Depan



Bismillahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillah.. rasanya jadi semangat buat nulis semenjak menikmati masa-masa tingkat akhir. Mungkin kerena ‘terbiasa’ nulis laporan kali ya~ *padahal proposal penelitian belum beres*. Sebenernya lebih semangat untuk melakukan kegiatan selain penelitian. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan, Ahad di pekan pertama jadi pengawas ‘kompetisi sain madrasah ibtidaiyah’se-Kabupaten Bogor, pekan kedua ikut acara keluarga, dan pekan ini jadi Liason Officer (LO) di Pasar Rakyat Tani. Untuk pengawas Kompetisi Sains ada sesi cerita sendiri. Kali ini mau cerita jd volunteer atau LO di Pasar Rakyat Tani mumpung masih anget.
Setelah briefing hari Kamis 12 Maret 2015 di Seafast sepulang dari LIPI sampai juga ke hari minggu 15 Maret 2015 di Lapangan Pasca Sarjana IPB. Rejekinya jadi LO untuk stand nomer 8 yang jual buah, beras dan sayur. Sayurnya ada kangkung dan buahnya ada Campedak, Manggis, Jambu, sama Carica. Pertama kali bisa makan carica. Tapi dalam bentuk manisan, karena buah ini ga bisa dimakan kalau belum diolah. Memang ga suka sama manisan jadi kalau cerita rasanya , emh,, manis. Mungkin buat yang suka manisan bakal suka. Ada pengunjung yang excited banget liat ada Carica. Kalo saya excited sama penjualnya. Siapa sih penjualnya? Penjualnya mas-mas semua. hehe. Mas-masnya itu ternyata angkatan satu tahun diatas saya departemen yang mumpuni masalah sayur dan buah. *bisa ditebak lah ya* Yup, mereka ini pengusaha. Bahkan udah bisa expor ke luar negeri looh. Mereka nanem sendiri.. ya pokonya dari hulu sampe hilir. Dari kebun sampe ke rumah konsumen.. beuh banget kan? Mereka semangat semua. Walaupun cara mereka masing-masing berbeda nunjukin semangatnya. Sayang ga bisa banyak nanya. Karena saya yang pemalu, sebenernya takut malu-maluin diri sendiri. Hehe... Perempuan sendiri sih *alasan* yah saya bukan orang yang supel bisa langsung deket sama orang. Cuman beda angkatan satu tahun tapi mungkin semangatnya beda beberapa tahun. Mungkin perjuangannya lebih jauh beda dari jarak satu tahun. Kontribusi mereka nyata untuk pertanian Indonesia.
Kebanyakan lulusan langsung cari kerja ke orang, ini buat pekerjaan sendiri. Saluut. Jadi jleb kalau inget lagu MPKMB 48 “di IPB membangun impian pertanian masa depan...”. Inget, ini Institut Pertanian Bogor. Tapi kan pertanian itu luaaas.. jadi sebisa mungkin berusaha untuk kemajuan pertanian Indonesia. Semoga dengan ilmu biokimia bisa memajukan pertanian Indonesia. Suatu saat petani Indonesia kalau butuh bahan bakar ga lagi pakai BBM tapi gas hidrogen. Aamiin :D *semangat penelitian biohidrogen*. Kedepannya limbah pertanian jadi substrat bahan bakar. Ga cuman skala laboratorium tapi petani sendiri *seneng ngebayanginnya juga* tapi sebisa mungkin jadi kenyataan. Sabisa-bisa.. kudu bisa.. In syaa Allah pasti bisa :D
Sebenernya selain ngucapin makasih tadi seusai tugas berakhir mau ngucapin semoga sukses usahanya dan bermanfaat untuk umat. Tapi hujan, jadi ga bisa lama-lama *alasan lagi*. Semoga sukses selalu 
Untuk acara ‘Pasar Rakyat Tani’ –nya juga~ semoga bisa sering-sering diadain. Keren lah poko na mah :) he.. Terima kasih Agrisocio dan yang telah mendukung acara ini.
Alhamdulillaah...