Teman
Aku tak menyangka hingga akhirnya kita dipertemukan kembali..
Kembali untuk berbagi sedikit bagian dari waktu-waktu kita..
Memikirkan kebaikan-kebaikan yang akan dikerahkan dan wujud nyatakan..
Tapi aku ragu semenjak awal,
ragu, mungkinkah keselarasan akan hadir?
Aku bilang, mungkin begitu banyak beda.
Baiknya kita jauh saja, agar semua tak jadi susah dengan hal-hal tak penting.
Cukup baik hanya dengan bertanya kabar.
Tapi, bukan itu tujuannya.
Terlalu remeh mementingkan kenyamanan diri.
Namun memang kalau begini akan menjadi sulit.
Sulit jika hanya dipikirkan susahnya.
Sulit jika hanya mengingat masa lalu.
Aku berpikir lagi.
Oh- jauhkan aku dari prasangka.
Prasangka-prasangka yang hanya akan melemahkan perjuangan.
Teman. Sudah kubuang semua dugaan kosong itu.
Aku hanya perlu menatap tujuan. Dan tak lupa mengingat kau juga ada di jalan yang sama.
Teman, sebaik dan seburuk apa kau menilaiku, biar Allah yang akan menjaga hatimu.
Teman, lagi-lagi ini hanya sebatas kata yang tak sampai padamu.. Tapi kau tahu teman,
Maha Pencipta mampu membaca ini.
Jauh sebelum tertata kata.
Semoga Allah memudahkan urusan kita.
Selasa, 15 Desember 2015
Sabtu, 21 November 2015
MindMaping: Dare to Write!
Bismillaah..
Semoga bisa tetep istiqomah mengerjakan tugas KMO :) Alhamdulillah selesai..
mohon kritik dan saran :)
Kenapa pilih "Membaca" karena ini yang paling deket sama apa yang ada dipikiran :D
mohon kritik dan saran :)
Kenapa pilih "Membaca" karena ini yang paling deket sama apa yang ada dipikiran :D
ini Outline nya~
Sabtu, 14 November 2015
Kenapa Saya Harus Menulis?
Kenapa Saya Harus Menulis?
Karena
saya senang membaca. Karena saya senang menyusuri tiap katanya hingga berbentuk
pola lalu gambar di kepala. Bagaimana saya bisa membayangkan puluhan kapal laut
menaiki gunung, ditarik pasukan terbaik. Dipimpin pejuang tangguh pada
zamannya. Bagaimana teguhnya Thariq bin Ziad. Ia bakar kapal perang untuk menghapus
satu dari dua pilihan. Saya terlalu jauh dari zaman itu. Secara nyata saya tak
pernah melihat rupa kapal-kapal itu. Tak ku dengar suara panglima Thariq bin
Ziad. Tapi saya tahu, saya tahu perjuangan mereka dengan membaca. Lihatlah
betapa mengagumkan para penulis itu. Mereka mampu membawa seseorang pada masa yang
tak tersentuhnya
Saya
yang baru bisa melintasi Pulau Jawa dapat merasakan hiruk pikuk perang.
Perjuangan abadi, mati syahid atau tenggelam sia-sia. Karena saya membaca dan
dikisahkan. Saya tidak membacanya dari tulisan pasukan jennisary atau salah
satu anak buah Thariq bin Ziad. Jauh. Sangat terlampau jauh. Saya hidup pada
zaman layar sentuh. Lalu bagaimana saya bisa menemukan kata-kata dan
kalimat-kalimat menyejarah itu. Karena ada mereka yang senantiasa membagikan
waktu, pikiran, dan perasaan mereka. Mereka tulis dengan penuh kejujuran dan
harapan. Mereka bagi apa yang mereka tahu dan rasakan. Tak ingin
peristiwa-peristiwa hebat itu terbagi hanya oleh yang merasakannya nyata. Karena
pada setiap zaman ada yang rela berbagi dan menuliskannya hingga sampailah
tulisan-tulisan itu kepada saya.
Tak
semua tulisan itu berupa kisah heroik. Banyak kisah-kisah yang timbul dari hati
yang hanya hati saja yang tahu. Dan lembaran kertas serta para pembacanya. Berupa
pendapat-pendapat sang penulis mengenai banyak hal. Membaca pemikiran-pemikiran
penulis ini sangatlah menyenangkan. Setiap orang memiliki kisah hidup yang tak
sama. Bagaimana kehidupannya itu membuat berbeda pula cara pandangnya. Saat
kita membaca tulisan serupa ini seolah diberi nasihat yang tak bisa kita jeda
kata-katanya. Atau berupa pengalaman penulis ketika mengalamami dan merasakan
sesuatu. Seperti pengalaman naik gunung. Ketika dingin menusuk kulit atau
dimana lelah terobati saat menatap lukisan alam dari puncak. Kurasa pendaki
pemula memiliki niatan menaiki gunung sebagian karena tulisan semacam ini. Tak puas
membayangkannya saja saat mata menulusuri tiap kata-kata dalam buku.
Kebanyakan
kisah pengalaman merasakan sesuatu adalah merasakan jatuh cinta. Hey, siapa
yang tak pernah jatuh cinta? Jika ada ada, mungkin belum. Merasakan cinta
adalah sebuah anugerah yang sulit dibicarakan, jarang rasanya seseorang
berpidato mengenai perasaan cintanya. Setidaknya ia luapkan dalam bentuk lagu
atau puisi. Lirik lagu dan puisi-puisi cinta pun mulanya ditulis. Mungkin
dilihat berkali-kali, sudah cukupkah kata-kata itu mewakili perasaannya. Dihapus
sebagian dan diganti hingga menjadi lebih indah. Saat orang lain membacanya, ia
akan merasa memiliki kawan baru. Berkata dalam hati “Seperti ini pula aku
merasakannya.” Mungkin adalah sifat manusia yang tak bisa hidup sendiri. Selalu
ingin berbagi. Berharap apa yang setelahnya adalah hal yang lebih baik.
Lebih
dari sekadar berbagi rasa dan pengalaman ada hal penting dari membaca dan
menulis. Begitu banyak penduduk bumi maka begitu banyak pula yang terjadi. Dari
setiap kejadian-kejadian ini tak semua berlangsung dengan baik dan yang menyadarinya
juga hanya sebagian saja. Mungkin bukan karena tak mau melakukan sesuatu
sebagaimana mestinya. Hanya tidak tahu. Maka penulis berusaha melakukannya.
Memberitahukan pada mereka yang tak tahu. Berharap dengan tulisan-tulisan sang
penulis menjadi jalan terciptanya keadaan yang lebih baik lagi.
Sedang
bagi sebagian lain ada rasa tanya yang begitu banyak. Apakah yang dilakukan dan
dirasakannya itu benar? Atau bertanya-tanya bagaimana ia harus melakukan ini dan
itu? juga bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Maka mereka akan
mencarinya, bertanya langsung misalnya. Tapi sudah saya sebutkan bahwa buku
adalah teman yang baik. Maka buku menjadi sarana pencarian jawaban.
Bagi
mereka yang sadar, mereka akan mencari tulisan-tulisan tentang hal yang mereka
tak tahu dan sangat ingin diketahui. Sadar betapa luas dan banyak penghuni bumi
sehingga ia akan mencari tahu apa saja yang sudah dan sedang terjadi. Setelahnya
ia akan berupaya menjadi jawaban atas segala kegelisan yang ditorehkan penulis.
Menurut
saya tulisan adalah sebuah tali yang menghubungkan setiap penghuni bumi. Sedang
membaca tulisan adalah yang mempererat ikatan itu. Ketika membaca itu adalah
hal yang sangat penting maka menulis lebih dari itu, bukan?
Sebentar,
saya rasa ada buku yang menjelaskan tentang pentingnya menulis. Mari saya
tunjukkan,
Tertulis
dari buku yang saya baca,
“Tulis dan sebarkanlah ilmumu di anatara
saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kitab-kitabmu. Kelak akan
datang suatu masa ketika terjadi banyak kekacauan dan orang-orang tak lagi
mempunyai sahabat yang akan menolong dan melindungi selain buku-buku.” (Ja’far
Ash Shadiq)
Saya baru menyadari
ketika menulis ini, sepertinya apa yang sudah saya tulis dan pikirkan ini tak
luput dari peran tulisan-tulisan yang pernah saya baca.
Kenapa
Saya Harus Menulis?
Berawal
dari keinginan berbagi apa yang ada dilubuk hati atau pengalaman menjadi hal
lain yang lebih penting rasanya. Banyak hal yang harus dibagi, banyak hal yang
perlu diketahui orang banyak. Orang-orang yang mungkin belum sadar akan
sesuatu. Sedangkan kita lebih dahulu mengetahui dan menyadarinya. Berharap
dengan menulis kita tak menjadi orang yang hanya diam saja. Orang baik yang diam
saja tanpa berbuat apa-apa bahkan untuk sekadar
menulis.
Ketika
diminta menuliskan alasan mengapa harus menulis, ternyata jawabannya ada
setelah saya menulis. Mungkin benar apa yang tertulis di buku “Prophetic
Learning” bahwa menulis menyiapkan kita untuk membaca kondisi di sekitar kita
secara cermat dan krtitis.
Oya,
mungkin bisa di baca buku “Prophetic Learning” karya Dwi Budiyanto. Halaman 186
menuturkan tentang penting dan manfaat menulis. Saya baru saja membacanya lagi saat
mengakhiri tulisan ini. Bermula ingin mengutip perkataan seorang terkenal.
Entah
apakah saya telah mencapai tahapan cermat dan kritis. Terpenting saya memiliki
alasan yang lebih untuk berani dan tetap menulis. Menjadi seseorang yang berupaya untuk kehidupan yang lebih baik
dengan tulisan.
Semoga
Allah senantiasa memberikan kebenaran dan kebaikan pada apa yang saya tulis.
Aamiin..
Selasa, 13 Oktober 2015
Kanda Kepada Dinda
Kanda kepada Dinda
Usah kau lama menangis dinda..
tujuan hidup mu dan Kanda bukanlah cinta..
tetapi beribadah kepada Pencipta Kanda dan engkau Dinda,
juga cinta..
tujuan hidup mu dan Kanda bukanlah cinta..
tetapi beribadah kepada Pencipta Kanda dan engkau Dinda,
juga cinta..
Kita hidup bukan untuk cinta,
namun hidup dengan cinta.
Jika cintamu hilang,
berlarilah..
kejarlah cinta yang lain.
percayalah kelak engkau akan temukan lagi.
Jika hidup untuk cinta yang seperti ini
mungkin,
tak banyak lagi orang hidup di dunia
Dinda
namun hidup dengan cinta.
Jika cintamu hilang,
berlarilah..
kejarlah cinta yang lain.
percayalah kelak engkau akan temukan lagi.
Jika hidup untuk cinta yang seperti ini
mungkin,
tak banyak lagi orang hidup di dunia
Dinda
Senin, 12 Oktober 2015
Pohon
Pohon itu mengerti.
Aku menatap tanpa
arah, tanpa jelas apa yang ku cermati.
Pohon itu mengerti
aku tengah sendiri.
Ia melambai, namun
aku tak sadar.
tak putus asanya.
Lebih keras ia melambai, hingga batangnya yang tegak ikut meliak-liuk.
Ia berhasil membuatku
tersadar.
Lambaiannya
menghantarkan angin sejuk lalu melintasi wajahku dan pergi. Pergi dengan kabar
bahwa aku tengah sendiri.
Minggu, 17 Mei 2015
MIMPI
Seseorang mengatakan, nantinya kita akan bertemu
orang yang berjalan sama cepatnya juga sama pelannya dengan kita. Dengan semua
jenis orang di dunia ini apakah bisa begitu serasinya? Belum aku mengetahuinya
sampai aku merasakannya sendiri, pikir ku. Hingga suatu hari aku bermimpi.
Mimpi ini seperti cerita tanpa awal yang jelas. seperti bagian film yang
tiba-tiba tanpa ada prolog. Aku tengah berlari kencang. Berlari melewati
orang-orang yang ramai. Jalannya tak sepi, terkadang banyak barang di sepanjang
jalan hingga kami harus melompat dan secepat mungkin menghindar dari sesuatu
yang menghalangi langkah kami. Aku berlari dengan tanganku yang di pegang erat.
Erat sekali. Dia berlari kencang sambil memegang tangan hingga seperti tak bisa
terlepas. Aku hanya bisa melihat dia yang menatap jelas ke depan dan sesekali menengok
ke belakang. Ke arah ku, memastikan semua baik-baik saja. Aku merasakan saat
itu aku juga harus berlari dan jangan berhenti. Sesaat aku berpikir untuk mengurangi
kecepatan atas keinginanku sendiri. Namun saat itu sama sekali aku tidak merasa
lelah. Jatuh. Ya, jika aku bermaksud mengurangi kecepatan tiba-tiba aku akan
terjatuh. Hingga aku memutuskan untuk tetap berlari. Mimpi selesai. Selang
beberapa hari aku bermimpi lagi. Aku bermimpi berada di ruang gelap tanpa
cahaya. Aku berjalan pelan sambil menggambarkan keadaan sekitar. Tangan ku
meraba udara di sekitar ku. Berharap tak ada yang menghalangi jalanku. Tapi
meskipun aku tak bisa melihat apa-apa aku bisa merasakan seseorang yang tengah
menemani ku. Memperhatikan ku. memastikan aku baik-baik saja. Ia membiarkan aku
memilih langkah ku sendiri tapi dia tak membiarkan aku terjatuh. Tetap
mengawasiku. Aku terus melangkah dengan sambil terus memutuskan langkah yang
aku ayunkan dan merasakan seseorang itu. Mimpi selesai. Apa maksud kedua mimpi
ini? Aku mencoba memahaminya. Aku dikedua mimpi ku dalam kondisi yang berbeda
namun serupa. Sama-sama melangkah mencapai suatu arah tapi bagaimana aku sampai
itu berbeda cara.
Minggu, 15 Maret 2015
Pertanian Masa Depan
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillah.. rasanya jadi semangat
buat nulis semenjak menikmati masa-masa tingkat akhir. Mungkin kerena ‘terbiasa’
nulis laporan kali ya~ *padahal proposal penelitian belum beres*. Sebenernya
lebih semangat untuk melakukan kegiatan selain penelitian. Alhamdulillah Allah
memberikan kesempatan, Ahad di pekan pertama jadi pengawas ‘kompetisi sain
madrasah ibtidaiyah’se-Kabupaten Bogor, pekan kedua ikut acara keluarga, dan
pekan ini jadi Liason Officer (LO) di
Pasar Rakyat Tani. Untuk pengawas Kompetisi Sains ada sesi cerita sendiri. Kali
ini mau cerita jd volunteer atau LO
di Pasar Rakyat Tani mumpung masih anget.
Setelah briefing hari
Kamis 12 Maret 2015 di Seafast sepulang dari LIPI sampai juga ke hari minggu 15
Maret 2015 di Lapangan Pasca Sarjana IPB. Rejekinya jadi LO untuk stand nomer 8
yang jual buah, beras dan sayur. Sayurnya ada kangkung dan buahnya ada
Campedak, Manggis, Jambu, sama Carica. Pertama kali bisa makan carica. Tapi
dalam bentuk manisan, karena buah ini ga bisa dimakan kalau belum diolah. Memang
ga suka sama manisan jadi kalau cerita rasanya , emh,, manis. Mungkin buat yang
suka manisan bakal suka. Ada pengunjung yang excited banget liat ada Carica. Kalo saya excited sama penjualnya. Siapa sih penjualnya? Penjualnya mas-mas
semua. hehe. Mas-masnya itu ternyata angkatan satu tahun diatas saya departemen
yang mumpuni masalah sayur dan buah. *bisa ditebak lah ya* Yup, mereka ini
pengusaha. Bahkan udah bisa expor ke luar negeri looh. Mereka nanem sendiri..
ya pokonya dari hulu sampe hilir. Dari kebun sampe ke rumah konsumen.. beuh
banget kan? Mereka semangat semua. Walaupun cara mereka masing-masing berbeda
nunjukin semangatnya. Sayang ga bisa banyak nanya. Karena saya yang pemalu,
sebenernya takut malu-maluin diri sendiri. Hehe... Perempuan sendiri sih
*alasan* yah saya bukan orang yang supel bisa langsung deket sama orang. Cuman
beda angkatan satu tahun tapi mungkin semangatnya beda beberapa tahun. Mungkin
perjuangannya lebih jauh beda dari jarak satu tahun. Kontribusi mereka nyata untuk
pertanian Indonesia.
Kebanyakan lulusan
langsung cari kerja ke orang, ini buat pekerjaan sendiri. Saluut. Jadi jleb
kalau inget lagu MPKMB 48 “di IPB membangun impian pertanian masa depan...”. Inget,
ini Institut Pertanian Bogor. Tapi kan pertanian itu luaaas.. jadi sebisa
mungkin berusaha untuk kemajuan pertanian Indonesia. Semoga dengan ilmu biokimia
bisa memajukan pertanian Indonesia. Suatu saat petani Indonesia kalau butuh
bahan bakar ga lagi pakai BBM tapi gas hidrogen. Aamiin :D *semangat penelitian
biohidrogen*. Kedepannya limbah pertanian jadi substrat bahan bakar. Ga cuman
skala laboratorium tapi petani sendiri *seneng ngebayanginnya juga* tapi sebisa
mungkin jadi kenyataan. Sabisa-bisa.. kudu bisa.. In syaa Allah pasti bisa :D
Sebenernya selain
ngucapin makasih tadi seusai tugas berakhir mau ngucapin semoga sukses usahanya
dan bermanfaat untuk umat. Tapi hujan, jadi ga bisa lama-lama *alasan lagi*. Semoga
sukses selalu
Untuk acara ‘Pasar
Rakyat Tani’ –nya juga~ semoga bisa sering-sering diadain. Keren lah poko na
mah :) he.. Terima kasih Agrisocio dan yang telah mendukung acara ini.
Alhamdulillaah...
Alhamdulillaah...
Langganan:
Postingan (Atom)
