Minggu, 15 Maret 2015

Pertanian Masa Depan



Bismillahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillah.. rasanya jadi semangat buat nulis semenjak menikmati masa-masa tingkat akhir. Mungkin kerena ‘terbiasa’ nulis laporan kali ya~ *padahal proposal penelitian belum beres*. Sebenernya lebih semangat untuk melakukan kegiatan selain penelitian. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan, Ahad di pekan pertama jadi pengawas ‘kompetisi sain madrasah ibtidaiyah’se-Kabupaten Bogor, pekan kedua ikut acara keluarga, dan pekan ini jadi Liason Officer (LO) di Pasar Rakyat Tani. Untuk pengawas Kompetisi Sains ada sesi cerita sendiri. Kali ini mau cerita jd volunteer atau LO di Pasar Rakyat Tani mumpung masih anget.
Setelah briefing hari Kamis 12 Maret 2015 di Seafast sepulang dari LIPI sampai juga ke hari minggu 15 Maret 2015 di Lapangan Pasca Sarjana IPB. Rejekinya jadi LO untuk stand nomer 8 yang jual buah, beras dan sayur. Sayurnya ada kangkung dan buahnya ada Campedak, Manggis, Jambu, sama Carica. Pertama kali bisa makan carica. Tapi dalam bentuk manisan, karena buah ini ga bisa dimakan kalau belum diolah. Memang ga suka sama manisan jadi kalau cerita rasanya , emh,, manis. Mungkin buat yang suka manisan bakal suka. Ada pengunjung yang excited banget liat ada Carica. Kalo saya excited sama penjualnya. Siapa sih penjualnya? Penjualnya mas-mas semua. hehe. Mas-masnya itu ternyata angkatan satu tahun diatas saya departemen yang mumpuni masalah sayur dan buah. *bisa ditebak lah ya* Yup, mereka ini pengusaha. Bahkan udah bisa expor ke luar negeri looh. Mereka nanem sendiri.. ya pokonya dari hulu sampe hilir. Dari kebun sampe ke rumah konsumen.. beuh banget kan? Mereka semangat semua. Walaupun cara mereka masing-masing berbeda nunjukin semangatnya. Sayang ga bisa banyak nanya. Karena saya yang pemalu, sebenernya takut malu-maluin diri sendiri. Hehe... Perempuan sendiri sih *alasan* yah saya bukan orang yang supel bisa langsung deket sama orang. Cuman beda angkatan satu tahun tapi mungkin semangatnya beda beberapa tahun. Mungkin perjuangannya lebih jauh beda dari jarak satu tahun. Kontribusi mereka nyata untuk pertanian Indonesia.
Kebanyakan lulusan langsung cari kerja ke orang, ini buat pekerjaan sendiri. Saluut. Jadi jleb kalau inget lagu MPKMB 48 “di IPB membangun impian pertanian masa depan...”. Inget, ini Institut Pertanian Bogor. Tapi kan pertanian itu luaaas.. jadi sebisa mungkin berusaha untuk kemajuan pertanian Indonesia. Semoga dengan ilmu biokimia bisa memajukan pertanian Indonesia. Suatu saat petani Indonesia kalau butuh bahan bakar ga lagi pakai BBM tapi gas hidrogen. Aamiin :D *semangat penelitian biohidrogen*. Kedepannya limbah pertanian jadi substrat bahan bakar. Ga cuman skala laboratorium tapi petani sendiri *seneng ngebayanginnya juga* tapi sebisa mungkin jadi kenyataan. Sabisa-bisa.. kudu bisa.. In syaa Allah pasti bisa :D
Sebenernya selain ngucapin makasih tadi seusai tugas berakhir mau ngucapin semoga sukses usahanya dan bermanfaat untuk umat. Tapi hujan, jadi ga bisa lama-lama *alasan lagi*. Semoga sukses selalu 
Untuk acara ‘Pasar Rakyat Tani’ –nya juga~ semoga bisa sering-sering diadain. Keren lah poko na mah :) he.. Terima kasih Agrisocio dan yang telah mendukung acara ini.
Alhamdulillaah...

Sabtu, 14 Maret 2015

HATI

Sebelum ujian, seorang dosen mata kuliah metabolisme meminta kami mahasiswanya menuliskan alasan mengapa kami sayang pada hati. Hati yang dimaksud adalah organ tubuh. Namun, hati juga sering diartikan sebagai sesuatu yang tak nampak yang dimiliki manusia. Lalai akan tugas yang tak formal itu, ketika belajar untuk ujian baru ku baca 'note' dicatatan ku. Hingga ku hentikan belajar ku sejenak dan mengerjakan tugas sambil bertanya dalam hati, "mengapa aku sayang hati?"

I love My Heart (read: Liver)
          Tanpa mu, mungkin aku seperti batu
                Keras tanpa rasa
                Tanpa mu, mungkin aku seperti batu
                Diam tanpa suara
                Tanpa mu, mungkin aku seperti batu
                Kaku tanpa senyum, tanpa sedih, tanpa luka
                Tanpa bahagia
                Tanpa mu, percumalah semua..
                Karbohidrat, protein, lemak, nukleotida. .
                Ah, dia hanya lewat sejenak. .
                Tanpa mu, tanpa mu tak ada daya ku tersenyum
                mengucap salam, berpeluk dengan saudaraku
                bahkan sekadar aku mengucapkan
                “I heart you. . duhai para pencinta Islam”
                karena glukosa yang menyertaimu, karena kau tak ada
Bila kau sakit.. sungguh.. semua sulit. .
sesulit menatap matahari ditengah siang
Bila kau tak berdaya, apalah aku?
Kau tak bisa mengubah amonia menjadi urea
tak bisa. .
Laju endap darah pun kacau.. ah tak lagi sama
tak lagi normal

Bila kau sakit, semua penjahat berhasil menguasaiku
mereka menembus dan membuatku lemah. .
Toksin itu berhasil melemahkan ku. .

Tapi kau tahu, apa yang ku takutkan saat kau sakit?
Saat aku tak lagi mampu berdiri, ruku, dan bersujud
kepada Pencipta ku, Pencipta mu. .
sungguh, jiwaku ada di genggaman-Nya. .

Do’a ku. . Illah ku mengidzinkan mu menemaniku
tegar dan sehat bersamaku. .
aku menyayangi mu duhai hati ku. .
Penuh syukur. . Terima kasih Ya Rabb memberiku
segumpal daging yang tak pernah ku minta
karena Engkau menyayangi ku (Aamiin)
dari hati saja kita semestinya bersyukur, belum lagi ginjal, jantung, otak, paru-paru, dan semua yang membentuk kita. Terlebih dari permintaan yang kita panjatkan
Bersyukurlah.. “Fa bi ayya alaa irabbikumaa tukadzdzibaan?”



       

BAHAGIA (?)


Air mata itu tak bisa diartikan kesedihan..
Sama halnya tawa yang bisa jadi tak berbahagia..
dan keringat yang tak bisa dinyatakan sebagai lelah..
serta kekar yang ternyata sangatlah lemah.

Manusia adalah jiwa dalam raga. Tak berarti sakit nya tubuh itu sakit bagi ruh.
Tak berarti senyumnya raga adalah apa yang terjadi pada jiwa.
semua serba tersembunyi. Rumit. karena jiwa tersembunyi.
Semua hanya bisa diartikan oleh jiwa dan raga yang menyatu.
Serta Tuhan yang Menciptakan.
Atau bahkan si empunya jiwa dan raga itu pun tak tahu.
karena hanya yang Allah Maha Tahu.
Nampak atau tersembunyi.

Dikisahkan oleh seorang pembimbing penelitian tentang sepenggal bagian hidupnya.
Kisah perjalanan terbesar bagi umat Islam di dunia. yaitu beribadah ke baituLlah.
Hingga sampai pada bagian cerita yang membuatku meneteskan air mata. Cerita tentang kebahagian tiada tara. Beliau tengah beribadah di masjidil Haram. Dilihatnya seorang cleaning service perempuan yang tengah melaksanakan tugas. Petugas kebersihan itu bercadar hingga Beliau tak bisa mengenali orang yang dibalik cadar itu berkebangsaan apa. Hingga akhirnya, disapanya Beliau terlebih dahulu. “Ibu dari Indonesia?”....  ternyata petugas yang mengepel Masjidil Haram itu adalah orang Indonesia. Timbulah percakapan antara Beliau dan petugas kebersihan itu. Sampai pada pertanyaan “Apa syarat untuk menjadi petugas yang mengepel masjidil Haram?” dan dijawablah olehnya “Hafidz 30 Juz.” Masyaa Allah... Kami yang mendengar cerita ini tak menyangka. Begitu hebat. Syarat yang belum mampu aku penuhi. Pembimbing penelitian saya menanyakan pekerjaannya yang mengepel lantai Masjidil Haram. Gajinya lebih murah dibanding pekerjaan lain. “Saya bahagia karena bisa selalu beribadah di Masjidil haram.” saat ditanya soal umroh dan haji tentu bukanlah hal sulit baginya. Saya terkagum dan meneteskan air mata mengingat orang-orang yang giat bekerja mencari uang. Berlelah-lelah. Sibuk. Namun lupa menganggarkan hartanya untuk ibadah ke tanah suci. Lupa meluangkan waktu dan berbangga diri karena sibuk mencari uang. Buat apa? Mungkin itulah kebahagian bagi sebagian orang. Dan sebagian lainnya adalah seperti TKI yang bertugas mengepel Masjidil Haram. Mungkin ia tak memiliki uang banyak tapi beribadah kepada Allah sebagai tujuan hidupnya sudah tercapai. Sungguh, belajar itu dari siapa pun.
semoga kita bisa memanfaatkan hidup kita untuk kebaikan J. Dan tentu bisa melengkapi rukun islam ke lima itu. Aamiin.