Sabtu, 14 Maret 2015

BAHAGIA (?)


Air mata itu tak bisa diartikan kesedihan..
Sama halnya tawa yang bisa jadi tak berbahagia..
dan keringat yang tak bisa dinyatakan sebagai lelah..
serta kekar yang ternyata sangatlah lemah.

Manusia adalah jiwa dalam raga. Tak berarti sakit nya tubuh itu sakit bagi ruh.
Tak berarti senyumnya raga adalah apa yang terjadi pada jiwa.
semua serba tersembunyi. Rumit. karena jiwa tersembunyi.
Semua hanya bisa diartikan oleh jiwa dan raga yang menyatu.
Serta Tuhan yang Menciptakan.
Atau bahkan si empunya jiwa dan raga itu pun tak tahu.
karena hanya yang Allah Maha Tahu.
Nampak atau tersembunyi.

Dikisahkan oleh seorang pembimbing penelitian tentang sepenggal bagian hidupnya.
Kisah perjalanan terbesar bagi umat Islam di dunia. yaitu beribadah ke baituLlah.
Hingga sampai pada bagian cerita yang membuatku meneteskan air mata. Cerita tentang kebahagian tiada tara. Beliau tengah beribadah di masjidil Haram. Dilihatnya seorang cleaning service perempuan yang tengah melaksanakan tugas. Petugas kebersihan itu bercadar hingga Beliau tak bisa mengenali orang yang dibalik cadar itu berkebangsaan apa. Hingga akhirnya, disapanya Beliau terlebih dahulu. “Ibu dari Indonesia?”....  ternyata petugas yang mengepel Masjidil Haram itu adalah orang Indonesia. Timbulah percakapan antara Beliau dan petugas kebersihan itu. Sampai pada pertanyaan “Apa syarat untuk menjadi petugas yang mengepel masjidil Haram?” dan dijawablah olehnya “Hafidz 30 Juz.” Masyaa Allah... Kami yang mendengar cerita ini tak menyangka. Begitu hebat. Syarat yang belum mampu aku penuhi. Pembimbing penelitian saya menanyakan pekerjaannya yang mengepel lantai Masjidil Haram. Gajinya lebih murah dibanding pekerjaan lain. “Saya bahagia karena bisa selalu beribadah di Masjidil haram.” saat ditanya soal umroh dan haji tentu bukanlah hal sulit baginya. Saya terkagum dan meneteskan air mata mengingat orang-orang yang giat bekerja mencari uang. Berlelah-lelah. Sibuk. Namun lupa menganggarkan hartanya untuk ibadah ke tanah suci. Lupa meluangkan waktu dan berbangga diri karena sibuk mencari uang. Buat apa? Mungkin itulah kebahagian bagi sebagian orang. Dan sebagian lainnya adalah seperti TKI yang bertugas mengepel Masjidil Haram. Mungkin ia tak memiliki uang banyak tapi beribadah kepada Allah sebagai tujuan hidupnya sudah tercapai. Sungguh, belajar itu dari siapa pun.
semoga kita bisa memanfaatkan hidup kita untuk kebaikan J. Dan tentu bisa melengkapi rukun islam ke lima itu. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar